Yang membuat Bedhoyo Ketawang
menarik ialah
terkandungnya hal-hal yang memiliki daya khas, misalnya saja
:Pengalaman saya sendiri, pada waktu ikut menghadapdi kraton, setiap
kali ada upacara
peringatan ulang tahun kenaikan tahta, yang senantiasa diisi dengan
pegelaran Bedhaya ketawang.
Pada saat-saat itulah terasa sekali suasana yang lain daripada biasanya.
Lebih-lebih bila tiba-tiba terdengar suara rebab yang digesek, mengiringi keluarnya para penari dari
Dalem Ageng Prabasuyasa, menuju ke Pendapa Agung Sasanasewaka. Tenang, sunyi dan hening !
Semuanya yang hadir diam. Kesembilan penari dengan khidmat berjalan dengan pandangan mata
yang penuh kesungguhan dan sikap yang agung.
Setibanya di hadapan Sinuhunan yang duduk di singgasana, mereka duduk bersila.
Tidak lama kemudian terdengar suara suarawati yang mengalunkan lagu, dengan kata-kata yang jelas
terdengar, “Raka pakenira sampun …” (“Kanda perintahmu sudah …”)
Suaranya yang jernih, merdu merayu itu
seolah-olah menembus serta menyusupi kelunan asap dupa yang membawa serta bau harum semerbak mewangi.
Sementara itu asap dupa tak henti-hentinya mengukus, berarak menyelimuti seluruh ruangan pendapa
agung.
Dan suasana di sekitarnya makin hening, khidmat, terpengaruh oleh daya perbawa mistis, yang sukar
untuk dilukiskan dan dijelaskan.
Suara gamelan dan suarawati yang mengiringi tarian Bedhaya Ketawang
itu mengingatkan kita pada bait dalam Bhatarayuddha, yang melukiskan betapa meriahnya alam ini
karena bunyi-bunyian alam, yang kira-kira demikian isinya :
“Di sungai-sungai suara katak yang bersautan terdengar seperti gema saron dalam pergelaran
wayang. Desir angin disela-selarumpun bambu
bagaikan bunyi seruling, yang menambah merdu dan serasinya nada yang
dibawakan oleh suara bangkok darijurang yang ceram, dibarengi lengking suara cenggeret dan belalang
yang berimbalan, bak bunyi kemanak yang bertalu-talu”.
Tak jauh bedanya dengan maknayang saya tangkap setelah saya melihat gurdwara – candi/kuil
bangsa Tamil
Bedhaya Ketawang dapat diklasifikasikan pada tarian yang mengandung unsur
dan makna serta sifat yang erat hubungannya dengan : (1) Adat Upacara(seremoni); (2) Sakral; (3)
Religius; (4) tarian Percintaan atau tari Perkawinan.
Adat Upacara
Bedhaya Ketawang jelas bukan suatu tarian yang untuk tontonan semata-mata,
karena hanya ditarikan untuk sesuatu yang khusus dan dalam suasana yang resmi sekali.
Seluruh suasana menjadi sangat khudus, sebab tarian ini hanya dipergelarkan berhubungan berhubungan
dengan peringatan ulang tahun tahta kerajaan saja. Jadi tarian ini hanya sekali setahun
dipergelarkannya Selama tarian berlangsung tiada hidangan keluar, juga tidakdibenarkan orang merokok.
Makanan, minuman atau pun rokok dianggap hanya akan mengurangi kekhidmatan jalannya upacara adat
yang suci ini.
|
|
Sakral
Bedhaya Ketawang ini dipandang sebagai suatu tarian ciptaan Ratu diantara seluruh mahluk halus.
Bahkan orang pun percaya bahwa setiap kali Bedhaya Ketawang ditarikan, sang pencipta selalu hadir
selalu hadir juga serta ikut menari. Tidak setiap orang dapat melihatnya, hanya pada mereka yang
peka saja sang pencipta menampakkan diri.Konon dalam latihan-latihan yang dilakukan, serig pula sang
pencipta ini membetul-betulkan kesalahan yang dibuat oleh para penari. Bila mata orang awam tidak
melihatnya, maka penari yang bersangkutan saja yang merasakan kehadirannya.Dalam hal ini ada dugaan,
bahwa semula Bedhaya ketawang itu adalah suatu tarian di candi-candi.
|
2.
Religius
Segi religius jelas dapat diketahui dari kata-kata
yang dinyanyikan oleh suarawatinya. Antara lain ada yang berbunyi : …tanu astra kadya agni urube,
kantar-kantar kyai, …yen mati ngendi surupe, kyai?” (……kalau
mati kemana tujuannya, kyai?).
3.
Tari Percintaan atau Tarian
Perkawinan
Tari
Bedhaya Ketawang melambangkan curahan cinta asmara Kangjeng
Ratu kepada Sinuhun Sultan Agung. Semuanya itu terlukis dalam gerak-gerik tangan serta seluruh
bagian tubuh, cara memegang sondher dan lain sebagainya. Namun demikian cetusan segala lambang
tersebut telah dibuat demikian halusnya, hingga mata awam kadang-kadang sukar akan dapat memahaminya.
Satu-satunya yang jelas dan memudahkan dugaan tentang adanya hubungan dengan suatu perkawinan ialah,
bahwa semua penarinya dirias sebagai lazimnya mempelai akan dipertemukan.
Tentang hal kata-kata yang tercantum dalam hafalan nyanyian yang mengiringi tarian, jelas sekali
menunjukkan gambaran curahan asmara Kangjeng ratu, yang merayu dan mencumbu. Bila ditelaah serta
dirasakan, maka menurut
penilaian atau pandangan pada masa kini, kata-katanya mungkin sekali dianggap kurang senonoh, sebab
sangat mudah membangkitkan rasa birahi.
Perihal kapan dimulainya pergelaran Bedhaya ketawang ini diadakan untukperesmian peringatan
ulang tahun kenaikan tahta Sri Susuhunan, belum ada yang dapat dipakai sebagai pedoman.Aslinya
pergelaran ini berlangsung selama 2 1/2 jam. Tetapi sejak jaman Sinuhun Paku Buwana X diadakan
pengurangan, hingga akhirnya menjadi hanya 1 1/2 jam saja.Bagi mereka yang secara langsung atau
tidak langsung terlibat dalam kegiatan yang khudus ini berlaku suatu kewajiban khusus. Sehari
sebelumnya para anggota kerabat Sinuhun menyucikan diri, lahir dan batin. Peraturan ini di masa-masa
dahulu ditaati benar. Walaupun dirasa sangat memberatkan dan meyusahkan, namun berkat kesadaran dan
ketaatan serta pengabdian pada keagungan Bedhaya Ketawang yang khudus itu, segala peraturan tersebut
dilaksanakan juga dengan penuh rasa tulus dan ikhlas. Yang penting ialah, bahwa bagi mereka ini
Bedhaya Ketawang merupakan suatu pusaka yang suci. Untuk inilah mereka semua mematuhi setiap
peraturan tatacara yang berlaku.
Bagi
para penari ada peraturan yang lebih ketat lagi, sebab menurut adat kepercayaan, mereka ini akan
langsung berhubungan dengan Kangjeng Ratu Kidul. Karena itu mereka juga selalu harus dalam keadaan
suci, baik pada masa-masa latihan maupun pada waktu pergelarannya.Sebagai telah dikemukakan di depan,
Kangjeng ratu Kidul hanya dapat dirasakan kehadirannya oleh mereka yang langsung disentuh atau
dipegang, bila cara menarinya masih kurang betul. Oleh karena itu, pada setiap latihan yang diadakan
pada hari-hari Anggarakasih (Selasa Kliwon), setiap penari dan semua pemain gamelan beserta
suarawatinya harus selalu dalam keadaan suci.Persiapan-persiapan untuk suatu pergelaran Bedhaya
Ketawang harus dilakukan sebaik-baiknya, dengan sangat teliti. Bila ada yang merasa
menghadapi halangan bulanan, lebih baik tidak mendaftarkan diri dahulu. Di samping sejumlah penari
yang diperlukan selalu diadakan juga penari-penari cadangan. Bila para penari ada beberapa pantangan
yang harus diperhatikan. Karena itu dipandang lebih bijaksana untuk memilih penari-penari yang sudah
cukup dewasa jiwanya, sehingga kekhusukan dan ketekunan menarinya akan lebih dapat terjamin.
Keseluruhannya ini akan menambah keagungan suasananya.
Siapakah
Pencipta Bedhoyo Ketawang ?
Pertanyaan ini timbul, karena orang mulai berpikir,
mengapa Bedhaya Ketawang itu dipandang demikian sucinya. Bersenandung lagunya pun dipantangkan.
Menurut tradisi, Bedhaya Ketawang dianggap sebagai karya Kangjeng ratu Kidul Kencanasari, ialah ratu
mahluk halus seluruh pulau Jawa. Istananya di dasar Samudera Indonesia. Pusat daerahnya adalah Mancingan, Parangtritis,
di wilayah Yogyakarta. Setiap orang yang percaya takut dan segan terhadapnya. Segala
peraturannya pantang dilanggar.
Tetapi
menurut R.T. Warsadiningrat (abdidalem niyaga), sebenarnya Kangjeng Ratu Kidul hanya menambahkan dua
orang penari lagi, sehingga sembilan orang, kemudian dipersembahkan kepada Mataram.Menurut beliau
penciptanya adalah Bathara Guru, pada tahun 167. Semula disusunlah satu rombongan, terdiri dari
tujuh bidadari, untuk menarikan tarian yang disebut “Lenggotbawa”. Iringan gamelannya hanya lima
macam; berlaras pelog, pathet lima, dan terdiri atas:
1.
gending - kemanak 2, laras jangga kecil /manis penunggul;
|
2.
kala - kendhang
3.
sangka - gong
|
4.
pamucuk - kethuk
5.
sauran - kenong.
|
Jika
demikian, maka Bedhaya Ketawang itu sifatnya Siwaistis dan umur Bedhaya Ketawang sudah tua sekali,
lebih tua daripada Kangjeng Ratu Kidul.Menurut G.P.H. Kusumadiningrat, pencipta “lenggotbawa”
adalah Bathara Wisnu, tatkala duduk di Balekambang. Tujuh buah permata yang indah-indah diciptanya
dan diubah wujudnya menjadi tujuh bidadari yang cantik jelita, dan kemudian menari-nari, mengitari
Bathara Wisnu dengan arah ke kanan . Melihat hal ini sang Bathara sangat senang hatinya.
Karena tidak pantas dewa menoleh ke kanan dan ke kiri, maka diciptanyalah mata banyak sekali
jumlahnya, letaknya tersebar di seluruh tubuhnya. Menurut Sinuhun Paku Buwana X, Bedhaya Ketawang
menggambarkan lambang cinta birahi Kangjeng Ratu Kidul pada Panembahan Senapati. Segala geraknya
melukiskan bujuk rayu dan cumbu birahi, tetapi selalu dapat dielakkan oleh Sunuhun. Maka Kangjeng
Ratu Kidul lalu memohon, agar Sinuhun tidak pulang, melainkan menetap saja di samudera dan
bersinggasana di Sakadhomas Bale Kencana, ialah singgasana yang dititipkan oleh Prabu Ramawijaya di
dasar lautan.
Sinuhun tidak mau menuruti kehendak Kangjeng Ratu
Kidul, karena masih ingin mencapai “sangkan paran”. Namun begitu beliau masih mau memperistri
Kangjeng Ratu Kidul, turun temurun. Siapa saja keturunannya yang bertahta di pulau Jawa akan
mengikat janji dengan Kangjeng Ratu Kidul pada saat peresmian kenaikan tahtanya.
Sebaliknya bahkan Kangjeng Ratu Kidul yang diminta
datang di daratan untuk mengajarkan tarian Bedhaya Ketawang pada penari-penari kesayangan Sinuhun.
Dan ini kemudian memang terlaksana. Pelajaran tarian ini diberikan setiap hari Anggarakasih, dan
untuk keperluan ini Kangjeng Ratu Kidul akan hadir.
Gendhing yang dipakai untuk mengiringi Beghaya
Ketawang disebut juga Ketawang Gedhe. Gendhing ini tidak dapat dijadikan gendhing untuk klenengan,
karena resminya memang bukan gendhing, melainkan termasuk tembang
gerong
Gamelan iringannya, sebagai telah diterangkan di depan, terdiri dari lima macam jenis: kethuk,
kenong, kendhang, gong dan kemanak. Dalam hal ini yang jelas sekali terdengar ialah suara kemanaknya. Tarian yang diiringi dibagi
menjadi tiga adegan (babak). Anehnya, di tengah-tengah seluruh bagian tarian larasnya berganti ke
slendro sebentar (sampai dua kali), kemudian kembali lagi ke laras pelog, hingga akhirnya. Pada
bagian (babak) pertama diiringi sindhen Durma, selanjutnya berganti ke Retnamulya.
Pada saat mengiringi jalannya penari
keluar dan masuk lagi ke Dalem Ageng Prabasuyasa alat gamelannya ditambah dengan rebab, gender
gambang dan suling. Ini semuanya dilakukan untuk menambah keselarasan suasana.
Selama tarian dilakukan sama sekali tidak digunakan keprak. Keluarnya
penari dari Dalem Ageng Prabasuyasa menuju ke Pendapa Ageng Sasanasewaka,
dengan berjalan berurutan satu demi satu. Mereka mengitari Sinuhun yang duduk di singgasana (dhampar).Demikian
juga jalannya kembali ke dalam. Yang berbeda dengan kelaziman tarian lain-lainnya, para penari
Bedhaya Ketawang selalu mengitari Sinuhun, sedang beliau duduk di sebelah kanan mereka (meng-“kanan”kan).
Pada tarian bedhaya atau serimpi biasa, penari-penari keluar-masuk dari sebelah kanan Sinuhun, dan
kembali melalui jalan yang sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar