Rabu, 07 Maret 2012

BEDHOYO KETAWANG

Yang membuat Bedhoyo Ketawang menarik ialah terkandungnya hal-hal yang memiliki daya khas, misalnya saja :Pengalaman saya sendiri, pada waktu ikut menghadapdi kraton, setiap kali ada upacara peringatan ulang tahun kenaikan tahta, yang senantiasa diisi dengan pegelaran Bedhaya ketawang. Pada saat-saat itulah terasa sekali suasana yang lain daripada biasanya. Lebih-lebih bila tiba-tiba terdengar suara rebab yang digesek, mengiringi keluarnya para penari dari Dalem Ageng Prabasuyasa, menuju ke Pendapa Agung Sasanasewaka. Tenang, sunyi dan hening ! Semuanya yang hadir diam. Kesembilan penari dengan khidmat berjalan dengan pandangan mata yang penuh kesungguhan dan sikap yang agung.   Setibanya di hadapan Sinuhunan yang duduk di singgasana, mereka duduk bersila. Tidak lama kemudian terdengar suara suarawati yang mengalunkan lagu, dengan kata-kata yang jelas terdengar, “Raka pakenira sampun …” (“Kanda perintahmu sudah …”)    Suaranya yang jernih, merdu merayu itu seolah-olah menembus serta menyusupi kelunan asap dupa yang membawa serta bau harum semerbak mewangi. Sementara itu asap dupa tak henti-hentinya mengukus, berarak menyelimuti seluruh ruangan pendapa agung. Dan suasana di sekitarnya makin hening, khidmat, terpengaruh oleh daya perbawa mistis, yang sukar untuk dilukiskan dan dijelaskan.    Suara gamelan dan suarawati yang mengiringi tarian Bedhaya Ketawang itu mengingatkan kita pada bait dalam Bhatarayuddha, yang melukiskan betapa meriahnya alam ini karena bunyi-bunyian alam, yang kira-kira demikian isinya :
“Di sungai-sungai suara katak yang bersautan terdengar seperti gema saron dalam pergelaran wayang. Desir angin disela-selarumpun bambu bagaikan bunyi seruling, yang menambah merdu dan serasinya nada yang dibawakan oleh suara bangkok darijurang yang ceram, dibarengi lengking suara cenggeret dan belalang yang berimbalan, bak bunyi kemanak yang bertalu-talu”.   Tak jauh bedanya dengan maknayang saya tangkap setelah saya melihat gurdwara – candi/kuil bangsa Tamil
Bedhaya Ketawang dapat diklasifikasikan pada tarian yang mengandung unsur dan makna serta sifat yang erat hubungannya dengan : (1) Adat Upacara(seremoni); (2) Sakral; (3) Religius; (4) tarian Percintaan atau tari Perkawinan.  
 Adat Upacara
Bedhaya Ketawang jelas bukan suatu tarian yang untuk tontonan semata-mata, karena hanya ditarikan untuk sesuatu yang khusus dan dalam suasana yang resmi sekali. Seluruh suasana menjadi sangat khudus, sebab tarian ini hanya dipergelarkan berhubungan berhubungan dengan peringatan ulang tahun tahta kerajaan saja. Jadi tarian ini hanya sekali setahun dipergelarkannya Selama tarian berlangsung tiada hidangan keluar, juga tidakdibenarkan orang merokok. Makanan, minuman atau pun rokok dianggap hanya akan mengurangi kekhidmatan jalannya upacara adat yang suci ini.  
Sakral
Bedhaya Ketawang ini dipandang sebagai suatu tarian ciptaan Ratu diantara seluruh mahluk halus. Bahkan orang pun percaya bahwa setiap kali Bedhaya Ketawang ditarikan, sang pencipta selalu hadir selalu hadir juga serta ikut menari. Tidak setiap orang dapat melihatnya, hanya pada mereka yang peka saja sang pencipta menampakkan diri.Konon dalam latihan-latihan yang dilakukan, serig pula sang pencipta ini membetul-betulkan kesalahan yang dibuat oleh para penari. Bila mata orang awam tidak melihatnya, maka penari yang bersangkutan saja yang merasakan kehadirannya.Dalam hal ini ada dugaan, bahwa semula Bedhaya ketawang itu adalah suatu tarian di candi-candi.
2.                  Religius Segi religius jelas dapat diketahui dari kata-kata yang dinyanyikan oleh suarawatinya. Antara lain ada yang berbunyi : …tanu astra kadya agni urube, kantar-kantar kyai, …yen mati ngendi surupe, kyai?” (……kalau mati kemana tujuannya, kyai?).
3.                  Tari Percintaan atau Tarian Perkawinan
Tari Bedhaya Ketawang melambangkan curahan cinta asmara Kangjeng Ratu kepada Sinuhun Sultan Agung. Semuanya itu terlukis dalam gerak-gerik tangan serta seluruh bagian tubuh, cara memegang sondher dan lain sebagainya. Namun demikian cetusan segala lambang tersebut telah dibuat demikian halusnya, hingga mata awam kadang-kadang sukar akan dapat memahaminya. Satu-satunya yang jelas dan memudahkan dugaan tentang adanya hubungan dengan suatu perkawinan ialah, bahwa semua penarinya dirias sebagai lazimnya mempelai akan dipertemukan. Tentang hal kata-kata yang tercantum dalam hafalan nyanyian yang mengiringi tarian, jelas sekali menunjukkan gambaran curahan asmara Kangjeng ratu, yang merayu dan mencumbu. Bila ditelaah serta dirasakan, maka menurut penilaian atau pandangan pada masa kini, kata-katanya mungkin sekali dianggap kurang senonoh, sebab sangat mudah membangkitkan rasa birahi. Perihal kapan dimulainya pergelaran Bedhaya ketawang ini diadakan untukperesmian peringatan ulang tahun kenaikan tahta Sri Susuhunan, belum ada yang dapat dipakai sebagai pedoman.Aslinya pergelaran ini berlangsung selama 2 1/2 jam. Tetapi sejak jaman Sinuhun Paku Buwana X diadakan pengurangan, hingga akhirnya menjadi hanya 1 1/2 jam saja.Bagi mereka yang secara langsung atau tidak langsung terlibat dalam kegiatan yang khudus ini berlaku suatu kewajiban khusus. Sehari sebelumnya para anggota kerabat Sinuhun menyucikan diri, lahir dan batin. Peraturan ini di masa-masa dahulu ditaati benar. Walaupun dirasa sangat memberatkan dan meyusahkan, namun berkat kesadaran dan ketaatan serta pengabdian pada keagungan Bedhaya Ketawang yang khudus itu, segala peraturan tersebut dilaksanakan juga dengan penuh rasa tulus dan ikhlas. Yang penting ialah, bahwa bagi mereka ini Bedhaya Ketawang merupakan suatu pusaka yang suci. Untuk inilah mereka semua mematuhi setiap peraturan tatacara yang berlaku.
Bagi para penari ada peraturan yang lebih ketat lagi, sebab menurut adat kepercayaan, mereka ini akan langsung berhubungan dengan Kangjeng Ratu Kidul. Karena itu mereka juga selalu harus dalam keadaan suci, baik pada masa-masa latihan maupun pada waktu pergelarannya.Sebagai telah dikemukakan di depan, Kangjeng ratu Kidul hanya dapat dirasakan kehadirannya oleh mereka yang langsung disentuh atau dipegang, bila cara menarinya masih kurang betul. Oleh karena itu, pada setiap latihan yang diadakan pada hari-hari Anggarakasih (Selasa Kliwon), setiap penari dan semua pemain gamelan beserta suarawatinya harus selalu dalam keadaan suci.Persiapan-persiapan untuk suatu pergelaran Bedhaya Ketawang harus dilakukan sebaik-baiknya, dengan sangat teliti. Bila ada yang merasa menghadapi halangan bulanan, lebih baik tidak mendaftarkan diri dahulu. Di samping sejumlah penari yang diperlukan selalu diadakan juga penari-penari cadangan. Bila para penari ada beberapa pantangan yang harus diperhatikan. Karena itu dipandang lebih bijaksana untuk memilih penari-penari yang sudah cukup dewasa jiwanya, sehingga kekhusukan dan ketekunan menarinya akan lebih dapat terjamin. Keseluruhannya ini akan menambah keagungan suasananya.
Siapakah Pencipta Bedhoyo Ketawang ?
Pertanyaan ini timbul, karena orang mulai berpikir, mengapa Bedhaya Ketawang itu dipandang demikian sucinya. Bersenandung lagunya pun dipantangkan. Menurut tradisi, Bedhaya Ketawang dianggap sebagai karya Kangjeng ratu Kidul Kencanasari, ialah ratu mahluk halus seluruh pulau Jawa. Istananya di dasar Samudera Indonesia. Pusat daerahnya adalah Mancingan, Parangtritis, di wilayah Yogyakarta. Setiap orang yang percaya takut dan segan terhadapnya. Segala peraturannya pantang dilanggar.
Tetapi menurut R.T. Warsadiningrat (abdidalem niyaga), sebenarnya Kangjeng Ratu Kidul hanya menambahkan dua orang penari lagi, sehingga sembilan orang, kemudian dipersembahkan kepada Mataram.Menurut beliau penciptanya adalah Bathara Guru, pada tahun 167. Semula disusunlah satu rombongan, terdiri dari tujuh bidadari, untuk menarikan tarian yang disebut “Lenggotbawa”. Iringan gamelannya hanya lima macam; berlaras pelog, pathet lima, dan terdiri atas:
1. gending  - kemanak 2, laras jangga kecil /manis penunggul;  

2. kala       - kendhang
3. sangka   - gong  


4. pamucuk - kethuk
5. sauran    - kenong.  

Jika demikian, maka Bedhaya Ketawang itu sifatnya Siwaistis dan umur Bedhaya Ketawang sudah tua sekali, lebih tua daripada Kangjeng Ratu Kidul.Menurut G.P.H. Kusumadiningrat, pencipta “lenggotbawa” adalah Bathara Wisnu, tatkala duduk di Balekambang. Tujuh buah permata yang indah-indah diciptanya dan diubah wujudnya menjadi tujuh bidadari yang cantik jelita, dan kemudian menari-nari, mengitari Bathara Wisnu dengan arah ke kanan . Melihat hal ini sang Bathara sangat senang hatinya. Karena tidak pantas dewa menoleh ke kanan dan ke kiri, maka diciptanyalah mata banyak sekali jumlahnya, letaknya tersebar di seluruh tubuhnya. Menurut Sinuhun Paku Buwana X, Bedhaya Ketawang menggambarkan lambang cinta birahi Kangjeng Ratu Kidul pada Panembahan Senapati. Segala geraknya melukiskan bujuk rayu dan cumbu birahi, tetapi selalu dapat dielakkan oleh Sunuhun. Maka Kangjeng Ratu Kidul lalu memohon, agar Sinuhun tidak pulang, melainkan menetap saja di samudera dan bersinggasana di Sakadhomas Bale Kencana, ialah singgasana yang dititipkan oleh Prabu Ramawijaya di dasar lautan.
Sinuhun tidak mau menuruti kehendak Kangjeng Ratu Kidul, karena masih ingin mencapai “sangkan paran”. Namun begitu beliau masih mau memperistri Kangjeng Ratu Kidul, turun temurun. Siapa saja keturunannya yang bertahta di pulau Jawa akan mengikat janji dengan Kangjeng Ratu Kidul pada saat peresmian kenaikan tahtanya.
Sebaliknya bahkan Kangjeng Ratu Kidul yang diminta datang di daratan untuk mengajarkan tarian Bedhaya Ketawang pada penari-penari kesayangan Sinuhun. Dan ini kemudian memang terlaksana. Pelajaran tarian ini diberikan setiap hari Anggarakasih, dan untuk keperluan ini Kangjeng Ratu Kidul akan hadir.
Gendhing yang dipakai untuk mengiringi Beghaya Ketawang disebut juga Ketawang Gedhe. Gendhing ini tidak dapat dijadikan gendhing untuk klenengan, karena resminya memang bukan gendhing, melainkan termasuk tembang gerong Gamelan iringannya, sebagai telah diterangkan di depan, terdiri dari lima macam jenis: kethuk, kenong, kendhang, gong dan kemanak. Dalam hal ini yang jelas sekali terdengar ialah suara kemanaknya. Tarian yang diiringi dibagi menjadi tiga adegan (babak). Anehnya, di tengah-tengah seluruh bagian tarian larasnya berganti ke slendro sebentar (sampai dua kali), kemudian kembali lagi ke laras pelog, hingga akhirnya. Pada bagian (babak) pertama diiringi sindhen Durma, selanjutnya berganti ke Retnamulya. Pada saat mengiringi jalannya penari keluar dan masuk lagi ke Dalem Ageng Prabasuyasa alat gamelannya ditambah dengan rebab, gender gambang dan suling. Ini semuanya dilakukan untuk menambah keselarasan suasana. Selama tarian dilakukan sama sekali tidak digunakan keprak. Keluarnya penari dari Dalem Ageng Prabasuyasa menuju ke Pendapa Ageng     Sasanasewaka, dengan berjalan berurutan satu demi satu. Mereka mengitari Sinuhun yang duduk di singgasana (dhampar).Demikian juga jalannya kembali ke dalam. Yang berbeda dengan kelaziman tarian lain-lainnya, para penari Bedhaya Ketawang selalu mengitari Sinuhun, sedang beliau duduk di sebelah kanan mereka (meng-“kanan”kan). Pada tarian bedhaya atau serimpi biasa, penari-penari keluar-masuk dari sebelah kanan Sinuhun, dan kembali melalui jalan yang sama.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar